Posted on Leave a comment

Harga Batu Apung Indonesia

Harga Batu Apung Indonesia

Harga batu apung Indonesia (harga berlaku) dalam kurun waktu 1984- 1991, dan dihitung berdasarkan volume dan nilai ekspor, ternyata berfluktasi, tetapi menunjukkan kenaikan rata-ratasebesar 3,16% per tahun harga dinyatakan dalam dolar AS, sedangkan jika dalam rupiah, kenaikannya lebih besar , yaitu 13,84%.

Company Name : UD.SWOTS POTS

Address : Arya Banjar Getas Street, Gang Lele, Green Palm Residence, Number B5, Mataram City, Nusa Tenggara Barat Province, Indonesia, Post Code: 83115

Phone / Whatsapp : +6287865026222

Lombok Pumice Stone Mining Indonesia

Pumice Stone Supplier From Indonesia

Perbedaan ini disebabkan oleh perubahan nilai tukan AS terhadap rupiah dalam setiap tahunnya, yang ternyata semakin tinggi. Pada tahun 1985 harga batu apung per ton adalah 115,32 dolar AS, kemudian menurun menjadi 105,43 dolar AS pada tahun 1988, dan naik kembali menjadi 135,77 dolar AS pada tahun 1991. Lain halnya jika dalam rupiah, harga pada tahun 1985 adalah Rp 128.582,00 per ton. Pada tahun 1988 meningkat menjadi Rp 178.388,00 per ton, dan pada tahun 1991 terus meningkat hingga mencapai Rp 270.455,00 per ton (Tabel 6)

Tabel 6. Harga Batu Apung Indonesia

TahunHarga per ton *)
Dolar ASRupiah
1985115,32128.582,00
1986119,27153.023,00
1987117,72194.238,00
1988105,43178.388,00
1989116,37206.790,00
1990137,67254.690,00
1991135,77270.454,00

Sumber            : Biro Pusat Statistik, diolah kembali

Keterangan : *) Harga batu apung (harga berlaku) dihitungmelalui volume dan nilai ekspor

Prospek Batu Apung Indonesia

Untuk dapat melihat prospek industri pertambangan batu apung Indonesia di masa mendatang, perlu ditinjau/dianalisis beberapa faktor atau aspek yang berpengaruh, baik yang mendukung maupun hambatan-hambatannya. Oleh karena data yang diperoleh sangat terbatas, analisis hanya dilakukan secara kualitatif. Disamping itu, akan dibuat juga proyeksi untuk tahun 2000.

Aspek-aspek yang Berpengaruh Pada Industri Batu Apung Di Indonesia

Perkembangan industri pertambangan batu apung di Indonesia, baik yang sudah, sedang, ataupun yang akan datang, diantaranya dipengaruhi oleh aspek-aspek berikut; potensi, kebijaksanaan pemerintah, permintaan di dalam dan di luar negeri, harga, subsitusi, dan aspek lainnya, seperti tumpang tindih lahan, jarak transportasi dan informasi potensi dan teknologi pemanfaatan.

Ketersedian Potensi Industri Batu Apung Di Indonesia

Potensi batu apung Indonesia yang tersebar di daerah Bengkulu, Lampung, dan Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Ternate, belum dapat diketahui secara pasti. Tetapi diperkirakan memiliki cadangan lebih dari 12 juta m3. Menurut Dinas Pertambangan Provinsi NTB, potensi endapan batu apung terbesar terdapat di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan cadangannya diperkirakan lebih dari 7 juta m3.

Apabila dilihat dari tingkat produksi sekarang, yaitu sekitar 175.00 ton per tahun, potensi batu apung di Indonesia baru habis lebih dari 40 tahun. Namun, eksplorasi dan inventaris endapan batu apung di daerah- daerah tersebut diatas perlu di tingkatkan ke eksplorasi yang lebih detail, sehingga jumlah cadangan dan kualitasnya dapat diketahui dengan pasti.

Kebijaksanaan Pemerintah Pada Industri Batu Apung Di Indonesia

Aspek yang tidak kalah pentingnya bagi industri pertambangan adalah kebijaksanaan pemerintah, antara lain perencanaan eksplor di luar minyak dan gas sejak Pelita IV, deregulasi di bidang ekspor, dan peningkatan pemanfaatan sumber daya alam. Kebijaksanaan tersebut pada dasarnya merupakan dorongan bagi eksportir dan para pengusaha untuk menanamkan investasinya, yang diantaranya adalah industri pertambangan batu apung.

Namun, agar kebijaksanaan pemerintah tersebut lebih berhasil, bagi industri pertambangan batu apung, masih perlu disertai dengan kemudahan dalam perizinan dan bantuan teknis baik eksplorasi maupun eksploitasi, serta informasi tentang potensi; terutama untuk pengusaha golongan ekonomi lemah.

Faktor Permintaan Pada Industri Batu Apung Di Indonesia

Dengan meningkatanya sektor konstruksi dan industri pemakai batu apung di dalam negeri,  di negara-negara maju dan negara-negara berkembang lainnya, permintaan akan batu apung telah semakin meningkat.

Di sektor konstruksi, sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk di dalam negeri, kebutuhan perumahan pun terus meningkat, yang sudah barang tentu pemakaian barang konstruksi akan naik. Untuk daerah yang dekat dengan lokasi keterdapatan batu apung, dan sukar mendapatkan batu bata dan genteng yang terbuatb dari tanah merah, serta batu untuk pondasi, maka batu apung dapat di gunakan untuk mengganti bahan konstruksi tersebut.

Dalam tahun tahun terakhir ini pemakaian batu apung untuk agregat ringan, yaitu genteng sudah dilakukan oleh satu perusahaan bahan bangunan di Bogor, Jawa Barat, dan menghasilkan produksi genteng yang lebih ringan serta kuat.

Di negara-negara maju penggunaan bahan konstruksi yang ringan dan tahan api untuk pembangunan gedung dan perumahan semakin di utamakan. Dalam hal ini, pemakaian batu apung sangat sesuai karena selain ringan juga mudah penanganannya, yaitu di bentuk menjadi agregat dengan ukuran sebagaimana yang di inginkan sehingga mempermudah dan mempercepat proses pembangunannya.

Demikian juga dinegara-negara berkembang, penggunaan batu apung untuk pembangunan perumahan yang mudah dan murah serta aman mulai banyak dilakukan.

Semakin meingkat dari masyarakat terhadap pemakaian dari bahan tekstil jenis jean, baik di dalam maupun luar negeri telah memacu industri tekstil jenis jean untuk berproduksi secara besar-besaran, sehingga pemakaian batu apung sebagai stonewashing trus meningkat. Karena adanya kelebihan dari sifat batu apung dengan menggunakan bahan galian lainnya seperti batu apung dibandingkan dengan menggunakan bahan galian lainnya seperti bentonit, zeolit atau kaolin, di negara-negara maju, pemakaian batu apung sebagai filter dalam industri peptisida, mulai menunjukkan peningkatan.

Jika menggunakan batu apung peptisida tidak akan tenggelam di dalam air, sehingga kerjaanya akan relatif lebih efektif dibandingkan menggunakan bentonit atau kaolin, peptisida tersebut akan cepat tenggelam dan kurang efektif.

Keadan tersebut diatas terbukti dari tingkat permintaan (konsumsi atau ekspor) batu apung

yang hampir setiap tahunnya terus meningkat. Dalam industri keramik jenis gerabah, pemakaian batu apung akan meningkatkan kualitas keramik, yaitu lebih ringan dan lebih kuat. Namun, pemakaian batu apung untuk bahan keramik didalam negeri sampai saat ini belum banyak berkembang dan masih di lakukan penelitian.

Faktor Harga Batu Apung Di Indonesia

Struktur atau tata niaga yang berlaku pada batu apung sekarang ini, masih kurang menguntungkan para pengusaha tambang batu apung. Sebagai contoh, di daerah Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1991 harga batu apung di lokasi tambang berkisar antara Rp 450 – Rp 500,00 per karung, dan di tempat prosesing sekitar Rp 700,00 per karung. Jika selesai di proses akan menghasilkan batu apung sekitar 30 kg/karung.

Sementara itu, harga batu apung yang di ekspor, jika dihitung dari nilai dan volume yang di ekspor tahun 1991 diperoleh harga sebesar Rp 270,50 per kg. Jika harga tersebut di asumsikan sebagai harga sampai negara tujuan ekspor, ongkos transportasi, pajak, dan asuransi, serta ongkos-ongkos lainnya sebesar 40% dari harga tersebut di atas, maka harga jual batu apung di tempat eksportir sekitar Rp 165,00 per kg, atau Rp 4.950,00 per 30 kg.

Dengan demikian jelas sekali bahwa harga batu apung dilokasi tambang sangat rendah. Dengan kata lain tata niaga batu apung di Indonesia, cenderung lebih banyak menguntungkan pihak eksportir, di bandingkan dengan pengusaha tambangnya sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya perombakan dalam tata niaga batu apung sedemikian rupa, yang dapat lebih mendukung peningkatan industri pertambangan batu apung, serta tetap menguntungkan semua pihak.

Subsitusi Batu Apung

Dalam penggunaannya batu apung dapat disubsitusi dengan material lain. Di sektor industri konstruksi, batu apung dapat di ganti oleh kaolin dan felspar sebagai salah satu bahan baku genteng, saluran air (gorong-gorong). Untuk dinding bangunan, penggunaan batu apung mendapat persaingan dari bata merah, asbes, kayu papan, dan sebagainnya. Di sektor industri,

serta sebagai bahan baku di industri keramik, dapat di subsitusi dengan bentonit, kaolin, felspar, dan zeolit, yang cnderung lebih mudah untuk didapatkan.

Aspek Lain Pada Industri Batu Apung

Aspek lainnya yang dapat berpengaruh terhadap sektor pertambangan, khususnya pertambangan batu apung, adalah :

Masalah tumpang tindih lahan

Pada kenyataanya, banyak potensi batu apung yang terdapat di kawasan perkebunan, kehutanan (hutan lindung dan cagar alam), dan kawasan lainnya, sehingga terjadi benturan kepentingan, yang akhirnya cenderung potensi batu apung tersebut tidak dapat dimanfaatkan/diusahakan.

Masalah transportasi

Meskipun harga batu apung ini relatif lebih murah, tetapi karena jarak transportasi dari lokasi terdapatnya batu apung dengan industri-industri pemakaianya cukup jauh, maka industi- industri cenderung menggunakan bahan galian industri lainnya (subsitusinya).

Informasi potensi dan teknologi pemanfaatan

Pada dasarnya, banyak investor yang berminat terhadap industri pertambangan batu apung. Akan tetapi, karena masih kurangnya informasi tentang data potensi yang lebih akurat, maka para investor tersebut tidak melanjutkan niatnya. Demikian juga halnya, penelitian dan informasi tentang teknologi pemanfaatan batu apung di industri hilir pemakainya, di dalam negeri dirasakan masih perlu di tingkatkan lagi, agar dapat menunjang pengembangan industri batu apung di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.